Mencari Jejak Enterpreuner

Hari ini adalah hari pertama saya kuliah setelah libur panjang hampir 3 minggu, saya ambil posisi duduk baris ke dua setelah kursi dosen, sambil menunggu dosen saya membaca buku Sandiaga Uno yang saya beli beberapa hari yang lalu.

Semua teman sekelas saya membuat kerumunan sendiri-sendiri karena dosen telat, saya tetap konsen dengan buku yang saya baca, tiba-tiba saya berhenti membaca karena terusik dengan perbincangan Lilis Sumiyati.

” Sumpah gue balakan malu banget kalo lulus dengan gelar S.Kom tapi gak bisa apa-apa”

” Ia, ya gimana ntar gue cari kerja kalo gak ngerti apa-apa ” Timpal Maemunah

Saya langsung membalikan badan dan ikut berbincang dengan mereka.

” Makanya kita harus pintar, apakah kita mau buka usaha sendiri atau cari pekerjaan yang bidangnya sama sekali bukan bidang IT “

” Ia, ya le kamu kan usaha sendiri jadi enak ” Sela Dhea

” Pantesan kamu jadi pendongeng gak ada hubungannya sama sekali ” Jawab Lilis

Dari percakapan tadi saya berfikir ternyata dongeng bisa di jadikan sebagai profesi yang bisa menghasilkan uang dan menjadi mata pencaharian, tapi itu bukan tujuan utama saya, toh saya sudah punya usaha sendiri yang bisa mengcover biaya hidup saya kok, tujuan saya ikut Kampung Dongeng bukan karena saya tidak punya pekerjaan.

” Sebenernya untuk membuka usaha gak sulit kok ” Jawab saya mengesampingkan pernyataan Lilis

Saya masih ingat ketika saya memulai usaha Online Shop padahal saya tidak punya barang yang saya jual, saat itu saya jadi calo atau bahasa kerennya broker menjual baju wanita, ketika saya menjual baju wanita tidak sedikit temen kampus yang mencibir tentang dagangan saya, saya gak peduli dengan apa yang orang katakan yang penting tidak merugikan orang lain.

Suka duka usaha online store tidak sedikit orang keep dagangan kita giliran tanya konfirmasi pembayaran tarsok, tarsok dan berujung di delete contact karena nagih terus, belum kalau barang yang saya display di group BBM ternyata sudah habis ada rasa tidak enak pada konsumen yang mau beli ternyata barangnya kosong itu sudah menjadi derita, yang terpenting bagaimana kita mengkomunikasikan dengan calon konsumen saat barang yang di pesan kosong.

Menjadi enterpreuner memang tidak mudah apa lagi masih tahap perintisan seperti saya yang belum punya hasil apa-apa hanya calo dan member multilevel, perjuangan yang gak muda buat saya sendiri jatuh bangun bahkan pernah saya di tipu semua dagangan saya habis dan tidak punya apa-apa sampai gak punya ongkos buat ke tempat benar-benar , ke sengsaraan yang saya rasakan tidak ada yang tau termasuk rekan kerja saya, yang mereka tau saya baik-baik saja.

Kesetian saya mengkuti proses alam yang harus saya tempu sendiri tanpa ada campur tangan orang lain membawa saya memiliki perubahan kondisi ekonomi yang dulu pas-pasan gak punya apa-apa, saya bersyukur kalau saat ini saya tidak kekurangan apapun tidak lagi di pusingkan dengan bayar listrik rumah orang tua, subsidi orang tua, bayar kost, biaya kuliah sekarang semua kebutuhan itu bisa saya penuhi tanpa mengurangi jatah makan saya dan bahkan saya bisa menabung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s