Dunia Nyata tak Seindah Lamunan ku

Semua berawal dari SOP, entah tahun berapa saya mengikuti seminar SOP yang di adakan oleh Pak Steven, melalui beliau saya menemukan destiny saya yaitu menjadi motivator untuk pendamping anak-anak hebat generasi penerus bangsa. Setiap kali perjalanan berangkat atau pulang dari BSD (Bumi Serpong Damai) saya sering mengeluarkan kalimat.

” Saya akan tinggal di Jakarta dan memberikan perubahan “

Kalimat itu terkesan arogan dan konyol menurut saya sekarang, berbeda saat saya mendapatkan kalimat itu pertama kali kalimat itu seperti akan terjadi dengan mudah dan tanpa perjuangan.

Semua yang saya bayangkan memang tidak sesuai dengan dunia nyata, hal ini sempat membuat saya putus asah karena selalu saja saya di tuntut kerja keras untuk mewujudkan apa yang saya inginkan yaitu menjadi motivator untuk pendamping anak. Saya ingat persis sebelum saya memutuskan hijrah ke Jakarta saya di anggap anak kemaren sore yang harus mengikuti rencana orang dewasa bahkan saya mendapatkan tekanan dari orang-orang terdekat saya, saat itu saya belum mengerti yang namanya perjuangan memujudkan visi dalam kehidupan saya, yang saya tau hanya “Tuhan akan memudahkan usaha umat-Nya” ternyata salah ada banyak ujian yang harus saya lalui.

Jakarta cuma jadi impian dan harapan kosong, karena saya terjebak oleh masalah ekonomi yang memaksa saya harus berkerja di perusahaan textile di Kerawang, menjadi motivator semakin jauh dari kenyataan saya di sibukan dengan rutinitas kerja pabrik hingga saya tidak sempat membekali diri untuk mewujudkan harapan saya, saya terlena dengan fee dari pabrik setelah saya harus senen-kamis untuk makan, tujuan hidup saya pun berubah merasa puas sebagai buruh kontrak di pabrik textile.

Di pecat, adalah cobaan terberat dalam hidup saya karena saya harus bersiap-siap mengecilkan ikat pinggang memperkecil pengeluaran demi bertahan hidup sambil mencari pekerjaan di Kerawang dengan Ijasah SMK dan pengalaman terbatas.

Keluar masuk perusahaan, keluar masuk warnet, bolak balik tukang foto kopi  sudah menjadi makanan harian saya, sungguh bosan jadi pengangguran tabungan semakin menipis meminta subsidi orang tua malu yang bisa saya lakukan adalah berhemat dan mendapatkan pekerjaan sesegera mungkin itu adalah solusi buat saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s